Single Bar vs Multi Bar: Yang Menentukan Martabat Advokat Bukan Jumlah Organisasinya, Melainkan Sistem Pengawasan Profesinya

Written by

in

Oleh: Tim BPW PERADIN Jawa Barat

Profesi advokat sejak lama ditempatkan sebagai officium nobile—profesi terhormat yang memegang peran penting dalam menjaga hak warga negara, akses terhadap keadilan, dan terselenggaranya proses hukum yang adil.

Namun kehormatan tersebut tidak lahir hanya karena advokat disebut sebagai profesi yang mulia.

Martabat profesi dibangun melalui kualitas anggotanya, independensi dalam menjalankan tugas, standar etik yang jelas, serta sistem pengawasan dan disiplin yang benar-benar bekerja.

Dalam berbagai sistem hukum, profesi advokat dikelola dengan model yang berbeda. Ada negara yang menggunakan pendekatan single atau unified bar, ada pula yang menggunakan pola multi bar atau pluralisme organisasi profesi.

Pertanyaannya kemudian: apakah satu organisasi otomatis lebih mampu menjaga kehormatan profesi? Sebaliknya, apakah banyak organisasi selalu menyebabkan lemahnya disiplin dan standar advokat?

Pengalaman sejumlah negara menunjukkan bahwa persoalannya tidak sesederhana itu.

Single Bar dan Gagasan Standardisasi Profesi

Pendukung sistem single bar umumnya berangkat dari gagasan bahwa satu sistem profesi akan memudahkan penerapan standar yang seragam.

Pendidikan profesi, kompetensi, kode etik, pengawasan, dan mekanisme disiplin secara teoritis dapat dijalankan dalam satu kerangka yang sama.

Keuntungannya jelas: profesi mempunyai standar yang relatif mudah dikenali, baik oleh advokat sendiri maupun oleh masyarakat.

Namun pertanyaan berikutnya jauh lebih penting:

Apakah kesatuan standar harus selalu berarti seluruh kewenangan profesi berada pada satu institusi yang sama?

Di sinilah pengalaman beberapa negara menjadi menarik.

Jepang: Satu Sistem Profesi, tetapi Tidak Seluruhnya Berpusat

Jepang merupakan salah satu contoh sistem profesi advokat yang sangat terintegrasi.

Profesi advokat berada dalam kerangka nasional Japan Federation of Bar Associations atau JFBA, tetapi pada saat yang sama terdapat local bar associations yang menjalankan berbagai fungsi pada tingkat lokal.

Artinya, kesatuan profesi tidak serta-merta berarti seluruh pengelolaan profesi dijalankan oleh satu pengurus pusat.

Model tersebut memperlihatkan prinsip penting:

unity of profession tidak harus berarti absolute centralization of power.

Kesatuan standar dapat berjalan bersama distribusi kewenangan.

Belanda: Unified Bar dengan Pengawasan yang Berlapis

Belanda memberikan contoh yang sangat menarik.

Nederlandse orde van advocaten atau NOvA merupakan organisasi profesi publik yang dibentuk berdasarkan Advocatenwet. Seluruh advokat di Belanda secara hukum merupakan bagian dari NOvA. Namun selain organisasi nasional tersebut, terdapat local orders of advocates pada berbagai arrondissement, dan struktur lokal tersebut mempunyai tugas serta kewenangan tertentu, termasuk pengawasan dan penanganan pengaduan.

Pada tingkat lokal, seorang deken mengawasi advokat yang berkantor di wilayahnya dan menangani pengaduan. Para deken juga berkoordinasi untuk mendorong pengawasan yang seragam dan efektif.

Model ini menunjukkan bahwa unified bar tidak identik dengan menumpuk seluruh kewenangan pada satu titik.

Ada organisasi nasional, ada struktur lokal, ada fungsi pengawasan, dan terdapat pemisahan fungsi tertentu agar sistem tidak hanya bergantung pada satu pusat kekuasaan.

Amerika Serikat: Banyak Organisasi, tetapi Disiplin Tetap Terstruktur

Amerika Serikat berada pada spektrum yang berbeda.

Di sana tidak terdapat satu organisasi nasional tunggal yang menjadi satu-satunya wadah seluruh advokat. Berbagai bar association dapat hidup berdampingan.

Namun pluralitas organisasi tidak berarti disiplin advokat diserahkan sepenuhnya kepada masing-masing organisasi.

Dalam banyak yurisdiksi, pengawasan dan disiplin advokat berada di bawah otoritas pengadilan tertinggi negara bagian atau lembaga disiplin yang bekerja berdasarkan kewenangan peradilan.

Dengan demikian, pluralisme organisasi dapat tetap berjalan berdampingan dengan satu sistem pengawasan profesi yang tegas.

Association dan Regulation Adalah Dua Hal yang Berbeda

Salah satu kekeliruan yang sering terjadi dalam perdebatan single bar dan multi bar adalah mencampurkan dua hal:

organisasi profesi dan regulasi profesi.

Organisasi profesi adalah tempat advokat berhimpun.

Regulasi profesi adalah sistem yang menentukan siapa yang boleh menjalankan profesi, standar apa yang harus dipenuhi, perilaku apa yang dilarang, siapa yang memeriksa pelanggaran, dan bagaimana sanksi dijatuhkan.

Keduanya tidak harus selalu berada dalam satu tangan.

Sebuah negara dapat memiliki satu organisasi profesi tetapi membagi fungsi pendidikan, registrasi, pengawasan, dan disiplin.

Sebaliknya, suatu negara dapat memiliki banyak organisasi advokat namun menerapkan satu standar profesi yang berlaku kepada semuanya.

Karena itu, mungkin konsep yang lebih penting dibanding sekadar single bar atau multi bar adalah:

Unity of Regulation

Yang harus disatukan tidak selalu organisasinya.

Yang harus dijamin adalah keseragaman standar profesinya.

Setidaknya terdapat beberapa hal yang idealnya berlaku secara konsisten terhadap seluruh advokat:

  • standar masuk profesi;
  • standar kompetensi;
  • kode etik;
  • kewajiban pendidikan berkelanjutan;
  • mekanisme pengaduan;
  • standar pemeriksaan etik;
  • jenis dan ukuran sanksi;
  • sistem pencatatan putusan disiplin;
  • mekanisme keberatan atau review; dan
  • konsekuensi sanksi yang tetap berlaku meskipun seorang advokat berpindah organisasi.

Pada titik ini, kualitas sistem jauh lebih penting daripada jumlah organisasi.

Risiko Single Bar: Konsentrasi Kewenangan

Single bar mempunyai keunggulan besar dalam standardisasi.

Namun sistem tersebut juga dapat menghadirkan risiko apabila terlalu banyak fungsi profesi berada pada satu institusi yang sama.

Misalnya, ketika satu organisasi sekaligus berperan sebagai penyelenggara pendidikan, penyelenggara ujian, pihak yang mengatur keanggotaan, pembuat standar etik, pengawas, pemeriksa pelanggaran, dan bagian dari sistem penjatuhan sanksi.

Masalahnya bukan berarti institusi tersebut pasti bertindak tidak benar.

Persoalannya adalah tata kelola kekuasaan.

Semakin besar kewenangan yang berada pada satu lembaga, semakin besar kebutuhan terhadap checks and balances, mekanisme review, transparansi, dan independensi lembaga disiplin.

Prinsipnya sederhana:

pengawas juga harus dapat diawasi.

Risiko Multi Bar: Fragmentasi Standar

Multi bar mempunyai persoalan yang berbeda.

Apabila setiap organisasi profesi mempunyai standar pendidikan, pengangkatan, kode etik, dan disiplin masing-masing tanpa mekanisme nasional yang sama, maka kualitas profesi dapat terfragmentasi.

Lebih berbahaya lagi apabila sanksi etik hanya berlaku di dalam organisasi yang menjatuhkannya.

Dalam keadaan demikian, seorang advokat secara teoritis dapat menghindari konsekuensi etik dengan berpindah organisasi.

Jika hal tersebut dimungkinkan, maka sistem disiplin kehilangan makna.

Karena itu multi bar membutuhkan sesuatu yang sangat penting:

plurality of associations, but unity of professional standards.

Banyak organisasi dapat hidup berdampingan, tetapi standar profesi tidak boleh ikut terpecah.

Officium Nobile Tidak Ditentukan oleh Kartu Anggota

Hakikat officium nobile bukan terletak pada nama organisasi tempat seorang advokat berhimpun.

Kehormatan profesi lahir dari perilaku.

Seorang advokat layak menyandang profesi terhormat ketika ia menjaga independensi, membela kepentingan klien tanpa kehilangan integritas, menjaga kerahasiaan, menghindari konflik kepentingan, mempertahankan kompetensi, menghormati proses peradilan, dan bersedia mempertanggungjawabkan perilakunya dalam sistem etik yang objektif.

Dengan demikian, officium nobile seharusnya dipahami bukan sebagai slogan kehormatan, melainkan standar tanggung jawab.

Pengawasan Tidak Boleh Menghancurkan Independensi

Namun ada sisi lain yang sama pentingnya.

Pengawasan profesi tidak boleh berubah menjadi mekanisme pengendalian terhadap advokat.

Advokat harus tetap independen dari pemerintah, kekuasaan politik, kepentingan ekonomi, maupun tekanan internal organisasi.

Tanpa independensi, advokat tidak akan mampu menjalankan fungsi pembelaan secara bebas, terutama ketika berhadapan dengan kekuasaan negara.

Tetapi independensi juga tidak boleh diterjemahkan sebagai kebebasan tanpa akuntabilitas.

Justru semakin besar independensi yang diberikan kepada profesi, semakin kuat pula mekanisme pertanggungjawaban etik yang harus dibangun.

Dengan kata lain:

independence and accountability are not enemies.

Keduanya justru harus berjalan bersama.

Pertanyaan yang Lebih Penting daripada Single Bar atau Multi Bar

Karena itu, diskusi mengenai masa depan profesi advokat seharusnya tidak berhenti pada pertanyaan:

“Single bar atau multi bar?”

Ada pertanyaan lain yang jauh lebih menentukan:

Siapa menetapkan standar profesi?

Siapa mengawasi advokat?

Apakah lembaga pemeriksa etik independen dari pengurus organisasi?

Apakah proses disiplin transparan dan dapat dipertanggungjawabkan?

Apakah terdapat mekanisme keberatan atau review?

Apakah sanksi etik tetap berlaku apabila advokat berpindah organisasi?

Apakah masyarakat mempunyai akses yang jelas untuk mengajukan pengaduan?

Dan yang paling mendasar:

siapa mengawasi pengawas?

Jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan tersebut akan lebih menentukan kualitas profesi daripada sekadar menghitung jumlah organisasi advokat.

Penutup

Single bar tidak otomatis melahirkan advokat yang bermartabat.

Multi bar juga tidak otomatis melahirkan kekacauan profesi.

Keduanya hanyalah pilihan arsitektur kelembagaan.

Yang menentukan kualitas profesi adalah apakah sistem tersebut mampu menjaga kompetensi, integritas, independensi, disiplin, transparansi, dan akuntabilitas.

Sistem yang baik harus mampu menjaga standar profesi tanpa menciptakan kekuasaan yang tidak dapat dikoreksi.

Ia juga harus mampu menjamin pluralitas organisasi tanpa membiarkan standar etik terfragmentasi.

Karena itu, perdebatan masa depan profesi advokat mungkin perlu bergerak satu langkah lebih maju.

Bukan hanya mempertanyakan:

“Berapa banyak organisasi advokat yang seharusnya ada?”

Tetapi:

“Bagaimana membangun satu sistem profesi yang memastikan setiap advokat—apa pun organisasi tempat ia berhimpun—tunduk pada standar kompetensi, etik, pengawasan, dan pertanggungjawaban yang sama?”

Pada akhirnya, martabat advokat tidak ditentukan oleh jumlah organisasinya. Martabat profesi ditentukan oleh integritas anggotanya dan kemampuan sistem profesi menjaga integritas tersebut.

Sumber/Rujukan

  • Japan Federation of Bar Associations (JFBA) — struktur profesi advokat Jepang, local bar associations, registrasi, pengawasan, dan disiplin advokat.
  • Nederlandse orde van advocaten (NOvA) — struktur profesi advokat Belanda, local orders, pengawasan profesi, fungsi deken, dan tata kelola organisasi profesi.
  • Advocatenwet (Belanda) — dasar hukum profesi advokat, organisasi profesi, pengawasan, dan mekanisme kelembagaan advokat di Belanda.
  • American Bar Association (ABA) — struktur organisasi profesi advokat, prinsip independensi disciplinary authority, serta tata kelola sistem disiplin advokat di Amerika Serikat.
  • Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2003 tentang Advokat — dasar hukum profesi advokat di Indonesia, termasuk kedudukan advokat sebagai profesi yang bebas, mandiri, dan bertanggung jawab.

© 2026 BPW PERADIN Jawa Barat